UPAYA PENUTUPAN DAN REKLAMASI LAHAN PASCA SEMBURAN LUSI (LUMPUR SIDOARJO) MUD VOLCANO
I. PENDAHULUAN
Mud volcano merupakan hal yang umum terjadi di di bagian utara P. Jawa dan P. Madura (Satyana, 2008). Seperti halnya di tempat lain di dunia, mud volcano di P. Jawa dan Madura ini lokasinya terletak di puncak antiklin atau di daerah sesar. Mud vulcano Sangiran terletak di puncak kubah Sangiran yang terpotong oleh sesar naik, Bleduk Kuwu terletak di puncak antiklin Purwodadi , Api Kayangan di antiklin Bojonegoro , Pengangson terletak di puncak antiklin Kedungwaru, Pulungan dan Kalang Anyar di puncak antiklin Pulungan, Gunung Anyar di puncak antiklin Guyangan, LUSI di perpanjangan struktur antiklin Sekarputih dan Bujek Tasek (Madura). Mud volcano atau gunung lumpur adalah setiap extrusi pada permukaan lempung atau lumpur yang secara morfologi membentuk suatu kerucut yang diatasnya terdapat suatu telaga dan dibarengi dengan keluarnya air dan gas yang terdorong kuat, bahkan dengan ledakan (Kusumadinata, 1980). Seringkali gas yang diextrusikan ikut terbakar dengan demikian kenampakannya sangat menyerupai gunung api (BPLS, 2009).
Banjir Lumpur Panas Sidoarjo atau Lumpur Lapindo atau Lumpur Sidoarjo (Lusi) , adalah peristiwa menyemburnya lumpur panas di lokasi pengeboran Lapindo Brantas Inc di Dusun Balongnongo Desa Renokenongo, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, sejak tanggal 29 Mei 2006. Semburan lumpur panas selama beberapa bulan ini menyebabkan tergenangnya kawasan permukiman, pertanian, dan perindustrian di tiga kecamatan di sekitarnya, serta memengaruhi aktivitas perekonomian di Jawa Timur (Anonim, 2011)
II. PEMBAHASAN
A. Lokasi LUSI Mud Volcano
LUSI Mud Volcano yang lahir pada tanggal 29 Mei 2006, terletak di delta Brantas, 10 km timurlaut dari Gunung Penanggungan, di dekat sumur eksplorasi Banjarpanji-1, di Desa Reno Kenongo, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur dengan letak lintang 7° 31' 47.28" S, 112° 42' 49.16" E. Bagian utara delta ini dibatasi oleh perbukitan Kendeng sedangkan bagian selatan dibatasi oleh rangkaian gunung api. (BPLS, 2009)
Gambar 1. Lokasi LUSI Mud Volcano. Sumber : foto satelit dari Google Earth (2010).
B. Sumur Eksplorasi Banjarpanji-1
Banjarpanji-1 adalah sumur explorasi yang dibor dengan target Formasi Kujung yang berumur Oligocene Akhir sampai Miocene Awal. Formasi Kujung adalah suatu reservoir karbonat besar di Jawa Timur, baik di daratan P. Jawa maupun di Laut Jawa dan Selat Madura, yang telah terbukti mengandung minyak dan gas. Sumur Banjarpanji-1 terletak di Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, sekitar 30 km di selatan kota Surabaya.
Stratigrafi sumur Banjapanji-1 dari atas ke bawah adalah sebagai berikut. Alluvial setebal 301 meter terletak tidak selaras di atas Formasi Pucangan, tebalnya mencapai 597 meter, terdiri dari selang selang batu pasir dan lempung mengandung fossil index foram plangton dan nanno berumur Pleistosene. Formasi Pucangan ini terletak selaras diatas Formasi Upper Kalibeng yang terdiri dari bluish gray clay, tebal mencapai 972 meter, berumur Pleistocene. Formasi Upper Kalibeng ini mungkin sekali terletak tidak selaras diatas batupasir volkanik (laharic sand) setebal 962 meter. Cutting di bagian bawah sumur ini, sampai ke kedalaman 9280 feet, tidak mengandung sama sekali fragment batugamping menunjukan bahwa Pemboran sumur Banjarpanji-1 belum mencapai batuan karbonat (BPLS cit. Kadar et al., 2009).
Gambar 2. Stratigrafi antara kedalaman dan suhu-tekanan di sumur Banjarpanji-1. Sumber : Mazzini et al. (2007)
C. Penyebab terjadinya LUSI Mud Volcano
Pada saat ini terdapat dua hipotesa tentang pemicu LUSI mud volcano telah dipublikasikan, yaitu hipotesa underground blowout dari sumur eksplorasi Banjarpanji-1 (Davies et. al., 2007) dan hipotesa remobilisasi zona bertekanan tinggi (overpressured zone) melalui bidang sesar Watukosek berarah timurlaut-barat daya yang tereaktifikasi oleh kenaikan aktifitas tektonik dan gempa (gempa Yogyakarta 26 Mei 2006) (Mazzini et al., 2007).
Ada dua pendapat tentang penyebab terjadinya lumpur Sidoarjo yakni akibat dari gempa Yogyakarta 26 Mei 2006 dan kesalahan dalam pengeboran gas pada sumur Banjar Panji-1. Pendapat yang pertama di ungkapkan oleh Mazzini et al.(2007) menyebut Gempa Yogya 27 Mei 2006 adalah pemicu erupsi lumpur yang meletup pada kebun pisang dan semak belukar sejauh 150 m dari sumur eksplorasi Banjar Panji 1. Dihipotesakan gempa tersebut memicu reaktivasi patahan Watukosek (ada pula yang menyebutnya sesar Gresik), yakni patahan yang berarah Timur Laut – Barat Daya yang berasal dari kompleks vulkanik Arjuno melintasi Gunung Penanggungan, Porong dan berujung di Selat Madura. Reaktivasi menyebabkan patahan bergerak, menimbulkan retakan memanjang di dekat sumur Banjar Panji 1, menimbulkan partial loss lumpur pemboran sumur Banjar Panji 1 (dimana 320 liter lumpur pemboran menghilang) dan perubahan volume produksi sumur Carat didekatnya. Disebutkan Gempa Yogya menghasilkan gucangan berintensitas 2 – 3 MMI di Surabaya (guncangan ini setara jika kita berdiri di tepi jalan dan ada truk besar sedang melintas). Sementara di bagian utara kompleks vulkanik Arjuno-Welirang (termasuk kawasan Porong), guncangannya mencapai 4 MMI (Putrohari cit. Marufin, 2008).
Gambar 3. Letak patahan Watukosek. Sumber : Mazzini et al. (2007).
Gambar 4. Gambaran skematis terjadinya LUSI Mud Volcano. Sumber : Mazzini et al. (2009).
Akan tetapi dari hasil perhitungan, skenario reaktivasi patahan sangat sulit untuk diterima, karena : pertama, intensitas guncangan di bagian utara kompleks vulkanik Arjuno-Welirang hanyalah 4 MMI sebagaimana data USGS untuk Gempa Yogya 27 Mei 2006. Kedua, jika reaktivasi patahan Watukosek menghasilkan guncangan 8 – 9 MMI (setara dengan guncangan di Imogiri dalam Gempa Yogya) pada luasan patahan, maka bisa dipastikan akan muncul kerusakan hebat berskala luas pada bangunan-bangunan di Porong hingga ke Surabaya (dan Malang) karena intensitas guncangan di Surabaya bisa mencapai 6 – 7 MMI, sementara kita tahu nyaris tidak ada kerusakan akibat guncangan gempa di wilayah itu karena intensitasnya hanya 2 – 3 MMI berdasar data USGS. Dan yang ketiga, sulit diterima bahwa Gempa Yogya yang magnitudenya 6,3 Mw mampu memicu gempa dengan magnitude hampir sama (yakni 6,2 Mw) pada segmen patahan yang terpisah sejauh 280 km dari patahan sumber Gempa Yogya. Yang sering terjadi adalah patahan yang tereaktivasi itu persis berada di sebelah patahan sumber gempanya, seperti terjadi pada gempa megathrust Sumatra-Andaman 26 Desember 2004 dimana patahnya segmen Simeulue memicu reaktivasi segmen Andaman diutaranya yang telah 500 tahun ‘tertidur’ (meski sebagian kecil diantaranya sempat ‘bangun’ pada Gempa Andaman 1941) sehingga total luasan patahannya mencapai 1.600 x 80 km2 dengan total magnitude menjadi 9,2 Mw dan pergeseran rata-rata 20 m (Putrohari cit. Marufin, 2008).
Sedangkan pendapat kedua, Semburan lumpur itu lebih disebabkan oleh penyebab tunggal : kecelakaan pemboran, dalam hal ini akibat tidak dipasangnya casing sejak kedalaman 1.091 meter hingga 2.834 meter. Menurut Davies et al., (2007) pada 28 Mei 2006 pukul 05:00 – 08:00 WIB sumur Banjar Panji-1 mengalami kick, yakni masuknya air formasi dan gas ke dalam sumur, sehingga 50 % lumpur pemboran mengalir keluar. Volume kick diestimasikan sebesar 62.000 – 95.000 liter dan menyebabkan peningkatan tekanan casing secara spektakuler dari 1,72 MPa menjadi 7,27 MPa dalam 25 menit. Guna mengatasi kick ini dipompakan 3.021 liter lumpur dengan berat jenis 0,0181 MPa/m (14,7 ppg). Kick memang berhenti, namun akibatnya terjadi sesuatu yang lebih serius pada bagian sumur yang tidak ditutupi casing. Davies et al. menunjukkan pada kedalaman 1.091 meter saja (yakni bagian teratas yang tidak tertutupi casing), tekanan dalam lubang sumur mencapai 0,0181 x 1091 + 7,27 = 27,02 MPa, sementara batas kekuatan batuan pada kedalaman tersebut hanyalah 21,03 MPa. Jelas bahwa tekanan dalam sumur melebihi kekuatan batuan sehingga terjadilah pecah formasi batuan pada kedalaman > 1.091 meter dan terbentuk retakan-retakan radial. Akibatnya air formasi dan gas (dan kemudian lumpur) yang semula masuk ke dalam sumur lebih memilih jalan yang mudah yakni lewat retakan radial tersebut dan bergerak ke atas hingga akhirnya keluar sebagai semburan lumpur (Putrohari cit. Marufin, 2008).
Gambar 5. Penampang sumur Banjarpanji-1. Sumber : BPLS (2009)
Perbandingan kedua hipotesa terjadinya LUSI mud volcano menurut BPLS (2009) :
Hipotesa Underground Blowout
|
Hipotesa Remobilisasi Overpressured Shale
| |
Asal usul
|
Adanya kesalahan pemboran sehingga tekanan didalam sumur memecahkan batuan
|
Proses alamiah seperti terjadinya lima (5) mud volcano lain disekitar sesar Watukosek.
|
Sosialisasi
|
Tersosialisasi dengan baik mulai tahun 2006
|
Hipotesa dikemukakan sesudah analisa data pada tahun 2007
|
Kemungkinan dimatikan
|
Mungkin
|
Tidak mungkin
|
Data pendukung
|
Proximity fisik, terjadi 200 m dari sumur Banjarpanji
|
Proximity temporal, terjadi loss 7 menit estela gempa
|
Lobang sumur tanpa casing mencapai 5600 ft.
|
Terdapat deuterium yang berasal dari magmatik
| |
Dibuktikan dengan percobaan di laboratorium oleh Mazzini, 2008
| ||
Data penyangkal
|
Casing shoe masih utuh setelah ditest dan dilakukan logging
|
Perlu dilakukan mapping dari sesar Watukosek
|
Casing shoe sudah cukup dalam lebih dari 1000 m
|
Gempa Yogya terlalu kecil dan/atau terlalu jauh untuk mereaktivasi sesar Watukosek.
| |
Sumur dalam keadaan terbuka tetapi lumpur tidak melalui sumur
| ||
Analisis tekanan menunjukkan kekuatan batuan lebih kuat dari tekanan yang ada
| ||
Peneliti
|
Rubiandini (2006)
|
Nawangsidi (2007)
Mazzini et al. (2007, 2008)
Japan Groups (2007)
Singh dan Dusseault (2007)
Guntoro (2007)
|
Published Papers
|
Davies et al. (2007)
Rubiandini (2007)
Davies et al. (2008)
Tingay et al. (2008)
|
Mazzini et al. (2007)
Sawolo et al. (2008)
Istadi et al. (2008)
|
Dalam AAPG 2008 International Conference & Exhibition dilaksanakan di Cape Town International Conference Center, Afrika Selatan, tanggal 26-29 Oktober 2008, merupakan kegiatan tahunan yang diselenggarakan oleh American Association of Petroleum Geologists (AAPG) dihadiri oleh ahli geologi seluruh dunia, menghasilan pendapat ahli: 3 (tiga) ahli dari Indonesia mendukung gempa yogyakarta sebagai penyebab, 42 (empat puluh dua) suara ahli menyatakan pemboran sebagai penyebab, 13 (tiga belas) suara ahli menyatakan kombinasi Gempa dan Pemboran sebagai penyebab, dan 16 (enam belas suara) ahli menyatakan belum bisa mengambil opini. Dengan kesimpulan ahli dunia seperti ini, tidak perlu diragukan dan didiskusikan lagi bahwa penyebab semburan lumpur di Sidoardjo adalah akibat kegiatan Pemboran. Hal ini diperkuat dengan adanya Laporan audit Badan Pemeriksa Keuangan tertanggal 29 Mei 2007 juga menemukan kesalahan-kesalahan teknis dalam proses pemboran (Rubiandini, 2008).
D. Karakteristik Lumpur dari LUSI Mud Volcano
Lumpur Lapindo sering disebut juga dengan Lumpur Sidoarjo (LUSI) diduga berasal dari paduan formasi Kalibeng dan formasi Kujung yang banyak mengandung silt dan sisipan pasir. Silt adalah nama umum clay dengan mineral utama monmorilonit mengandung 50 % partikel klasik berdiameter kurang dari 0,0625 mm. Mineral umum yang terdapat dalam kandungan lumpur Lapindo antara lain kuarsa, kalsedon, opal, feldspar, mika, hydromika (illit), khlorit, besi oksida, kaolit, monmorilonit, karbonat, material karbonaseus, glaukonit dan campuran komposit mineral amorphous.
Lumpur Sidoarjo merupakan lumpur yang keluar dari perut bumi, berasal dari bagian sedimentasi formasi Kujung, formasi Kalibeng dan formasi Pucangan. Sedimen formasi Kujung terdiri atas bagian sedimen yang kaya klastik, sediment bagian transgresi dari air dangkal mengandung karbonat dan serpihan batu yang mengandung zat kapur dengan karbonat terkumpul dan dilokalisir melalui daerah dataran tinggi. Rata–rata porositasnya adalah 20 – 30% dan permeabilitasnya adalah 160 ‐ 194 mD. Hasil pengujian densitas lumpur menunjukkan bahwa lumpur cukup berat (berkisar 1,24 – 1,37) karena adanya kandungan oksida dan ukuran partikelnya. Oksida silika, kalsium, natrium dan kalium mempunyai densitas yang berat dan menyebabkan lumpur juga mempunyai densitas yang berat. Di samping itu, secara fisik lumpur mempunyai ukuran partikel yang halus, sehingga ruang yang ditempati akan semakin kecil, dan jarak antar partikel semakin kecil, sehingga dalam satuan volume tertentu akan ditempati partikel lebih banyak. Hasil analisa keseragaman butir (grain size) menggambarkan bahwa komponen terbesar adalah clay (sekitar 81,5%) yang berarti bahwa butiran lumpur sangat halus. Karena ukuran partikel sangat halus, maka sesame partikel dapat menyusun diri sangat rapat sehingga tidak mudah diintroduksi oleh molekul lain (misalnya molekul air). Tetapi dengan pengadukan, interaksi antar partikel akan terlepas, sehingga apabila ada aliran alir yang cukup kuat, secara perlahan lumpur akan tergerus.
Berdasarkan komposisi kimia (kandungan oksida dan logam), dapat disimpulkan bahwa lumpur Sidoarjo: a). Mempunyai kecenderungan untuk semakin tinggi kadar SiO2 maka semakin rendah kandungan aluminanya. b). Mengandung alumina yang tinggi (sekitar 19% Al2O3), yang dapat ditafsirkan sebagai lumpur yang kaya akan mineral felspar. c). Mempunyai kadar besi oksida yang berkisar antara 4,95 ‐ 6,02% Fe2O3, menunjukkan adanya jenis serpih merah (red shales) atau batu lempung besi/ kamosit (rata‐rata dalam batuan serpih/lempung merah sekitar 5%) (BALITBANG PROV. JATIM, 2009).
E. Dampak LUSI Mud Volcano
Selama 4 tahun lumpur lapindo tidak saja menghilangkan ruang hidup puluhan ribu warga, namun juga rusaknya lingkungan yang ada di sekitar semburan. Sawah-sawah dan tambak-tambak tidak lagi bisa didayagunakan sejak semburan lumpur terjadi dan pembuangannya ke sungai porong. Tingkat hidrokarbon di udara yang telah mencapai 55.000 ppm, dari ambang batas normal yang hanya 0,24 ppm. Data ini berdasarkan surat rekomendasi Gubernur Jawa Timur tanggal 24 Maret 2008. Kondisi ini yang menyebabkan meningkatnya penderita ISPA pada tahun 2007 hingga lebih dari 46 ribu jiwa, 2 kali lipat dari penderita tahun 2006 yang hanya 23 ribu (Anonim, 2011). Selain menimbulkan dampak terhadap masyarakat adan lingkungan, semburan lumpur ini juga membawa dampak yang luar biasa aktivitas perekonomian di Jawa Timur. Sampai Mei 2009, PT Lapindo, melalui PT Minarak Lapindo Jaya telah mengeluarkan uang baik untuk mengganti tanah masyarakat maupun membuat tanggul sebesar Rp. 6 Triliun (Anonim, 2011).
Selain tingginya kadar hidrokarbon di udara, berdasar temuan awal riset WALHI Jawa Timur, ditemukan pula tiga jenis logam berat dalam lumpur, yaitu Tembaga, Timbal, dan Kadmium. Dan rata-rata kandungannya lebih dari 2000 kali batas baku yang diperbolehkan. Ditemukan pula jenis Polycyclic Aromatic Hydrocarbon(PAH), yaitu Crysene dan Benz(a)anthracene dalam lumpur lapindo. Senyawa kimia ini bersifat karsinogenik atau memicu terjadinya tumor dan kanker dengan pengaruhnya pada metabolisme tubuh (Anonim,2011).
Dari data yang didapat dapat disimpulkan bahwa Lumpur dari LUSI Mud Vulcano merupakan lumpur yang berasal dari sedimentasi sungai Brantas/ Porong yang terjadi di laut sehingga lumpur dari LUSI Mud Vulcano merupakan Lumpur laut. Menurut Maas (2005), lumpur laut dapat memberikan dampak negatif jika terangkut ke lahan pertanian, seperti yang terjadi di Aceh dan Sumatera Utara akibat badai tsunami.
1. Kandungan garam terlarut yang sangat tinggi, baik berupa nutrisi maupun yang bersifat toksik bagi tanaman (terutama boron), menyebabkan keracunan bagi tanaman secara umum, dimulai dari pecah dan busuknya jaringan akar.
2. Suasana lumpur laut yang reduktif diperparah oleh adanya bangkai hewan dan mayat menyebabkan rusaknya sistem perakaran tanaman yang masih tersisa karena ketersediaan oksigen yang menjadi sangat terbatas.
3. Peruraian bahan organik yang semula tertahan akibat kelangkaan oksigen di lumpur sewaktu ada di laut dapat menjadi lebih cepat bilamana cukup tersedia sinar matahari dan adanya aliran air segar.
F. Upaya Penghentian Semburan LUSI Mud Volcano
Upaya untuk menutup semburan sudah dilakukan secara maksimal dilakukan oleh Lapindo bersama dengan BPMIGAS, TimNas dan BPPLS. Setidaknya sudah empat metoda dijalankan untuk menutup semburan. Pertama, dengan menggunakan metoda snubbing unit (re-entry well). Kedua, side tracking oil well. Ketiga, relief well , dan cara keempat dengan menggunakan high densitry chained balls (HDCB) (BPLS, 2009).
Re-entry Well dengan memakai Snubbing Unit
Tujuan utama dari sumur re-entry adalah untuk mendapatkan survey dari sumur yang akurat untuk membantu pengarahan ( direction control ) relief well . Untuk ini kedalaman yang bisa dilakukan survey sampai ke 2,950 ft. Upaya melakukan survey yang lebih dalam dengan melakukan survey didalam drill pipe tidak berhasil.
Tujuan utama dari operasi re-entry snubbing adalah untuk mendapatkan data gyro survey yang akurat sedalam mungkin. Survey ini diperlukan nanti pada relief kill well agar sumur dapat diarahkan masuk kedalam sumur Banjarpanji. Dalam skenario ini, tugas Snubbing Unit adalah untuk mengumpulkan data, sedangkan tugas melakukan well killing maupun mendorong fish kedalam lubang tidak mungkin dilakukan karena keterbatasan dari alat itu sendiri.
Tujuan Utama dari re-entry well ini adalah meneruskan tujuan Snubbing Unit dengan melakukan side tracking disumur Banjarpanji
Tujuan utama dari monitoring well ini adalah untuk mengetahui seberapa besar pengaruh dari semburan lumpur dan pergerakan tanah disekitarnya pada kekuatan batuan. Pengetahuan mengenai kekuatan batuan sesudah adanya pergerakan tanah ini diperlukan agar casing design bisa dilakukan dengan benar. Pengeboran sampai pada kedalaman 1,200 ft menunjukkan tidak ada perubahan yang cukup berarti dari keadaan asli. Hal ini menunjukkan bahwa casing design sudah benar dan tidak perlu dirubah.
Tujuan utama dari relief well-1 (RW-1) adalah sebagai pandu untuk relief well selanjutnya. Oleh sebab itu Relief Well-1 bertugas untuk memasuki sumur Banjarpanji, dengan memakai teknik Ranging ke casing dan fish yang tertinggal, dan meneruskan sampai sedalam mungkin. Pada posisi terdalam inilah Relief Well-1 akan meninggalkan logam yang nantinya berfungsi sebagai pandu untuk relief well selanjutnya. Relief well -1 ini juga nantinya akan berfungsi sebagai pressure observation well diwaktu dilakukannya pemompaan kill fluid.
Pergerakan tanah dilokasi Relief Well-1 cukup serius sehingga terjadi dua kali casing rusak. Pertama casing 16” yang rusak pada kedalaman sekitar 1,100 ft sehingga 13-3/8” casing tidak dapat melalui posisi rusak tersebut dan harus dipasang diatasnya. Yang kedua adalah kerusakan casing 9-5/8” yang mengakibatkan sumur dilakukan abandonment.
Relief well-1 ( RW#1) gagal mencapai tujuannya. Beberapa kendala teknis dihadapi oleh pemboran ini, dengan perubahan kondisi tanah sebagai penyebab utama. Casing 9-5/8” telah mencapai jarak kurang lebih 300 ft dari sumur Banjarpanji-1, tetapi mengalami kerusakan parted casing . Sidetrack juga tidak memungkinkan karena tidak adanya semen dibelakang casing . Akhirnya diputuskan untuk ditinggalkan.
Tujuan utama dari Relief Well RW#2 adalah untuk mematikan semburan lumpur. Ini rencananya akan dicapai dengan memasuki sumur Banjarpanji sedalam dalamnya, atau paling dangkal sekitar 6,000 ft, dengan memakai sumur RW#1 sebagai pandu. Namun pada kenyataannya Relief Well RW#1 tidak berhasil meninggalkan benda metal sebagai pandu, sehingga RW#2 pun akhirnya tidak bisa di bor sampai selesai.
Teknik ini bukan untuk menutup semburan tapi untuk mengurangi volume semburan. High Density Chain Balls (HDCK) adalah rangkaian yang terdiri dari empat bola-bola beton dengan total berat sekitar 200-250 kilogram tiap rangkaian. Satu rangkaian terdiri dari empat bola-bola beton yang dihubungkan dengan kawat baja. Sebanyak 374 rangkaian bola beton telah berhasil dimasukan semenjak pertama kali dimasukan pada akhir Februari 2007. Ketika jumlah rangkaian yang dimasukan mencapai 146 rangkaian dengan kedalaman sekitar 900 meter di bawah permukaan semburan, nampak ada hasil yang cukup menggembirakan yaitu tekanan semburan menurun dan peningkatan kadar H2S. Namun selanjutnya semburan ini kembali pada kondisi semula dan tidak berhasil mengurangi volume semburan.
Deputi Bidang Operasi Badan Pelaksana BPLS dalam upaya penanggulangan semburan lumpur tetap konsisten dengan memilih konstruksi yang plastis berupa konstruksi sandbag (karung yang diisi dengan sirtu) untuk memperkuat dan meninggikan tanggul cincin untuk mencapai elevasi rencana +15 .00 meter di sekeliling pusat semburan sebagai sarana pengendalian tekanan dan volume semburan (hydrostatic counter pressure) serta arah aliran lumpur untuk kemudian dipompa ke Kali Porong. Dalam kegiatan ini kendala yang dialami adalah subsidence (penurunan tanah terus menerus) berkisar antara 20-30 cm/hari pada lokasi tanggul cincin. Oleh karena itu sampai saat ini BPLS lebih fokus di dalam upaya penanggulangan luapan yang terjadi.
G. Antisipasi kegagalan menghentikan semburan lumpur
Jika skenario penghentian lumpur terlambat atau gagal maka tanggul yang disediakan tidak akan mampu menyimpan lumpur panas sebesar 126,000 m3 per hari. Pilihan penyaluran lumpur panas yang tersedia pada pertengahan September 2006 hanya tinggal dua. Skenario ini dibuat kalau luapan lumpur adalah kesalahan manusia, seandainya luapan lumpur dianggap sebagai fenomena alam, maka skenario yang wajar adalah 'bagaimana mengalirkan lumpur kelaut' dan belajar bagaimana hidup dengan lumpur (Anonim, 2011).
Pilihan pertama adalah meneruskan upaya penangangan lumpur di lokasi semburan dengan membangun waduk tambahan di sebelah tanggul-tanggul yang ada sekarang. Dengan sedikit upaya untuk menggali lahan ditempat yang akan dijadikan waduk tambahan tersebut agar daya tampungnya menjadi lebih besar. Masalahnya, untuk membebaskan lahan disekitar waduk diperlukan waktu, begitu juga untuk menyiapkan tanggul yang baru, sementara semburan lumpur secara terus menerus, dari hari ke hari, volumenya terus membesar.
Pilihan kedua adalah membuang langsung lumpur panas itu ke Kali Porong. Sebagai tempat penyimpanan lumpur, Kali Porong ibarat waduk yang telah tersedia, tanpa perlu digali, memiliki potensi volume penampungan lumpur panas yang cukup besar. Dengan kedalaman 10 meter di bagian tengah kali tersebut, bila separuhnya akan diisi lumpur panas Sidoardjo, maka potensi penyimpanan lumpur di Kali Porong sekitar 300,000 m3 setiap kilometernya. Dengan kata lain, kali Porong dapat membantu menyimpan lumpur sekitar 5 juta m3, atau akan memberikan tambahan waktu sampai lima bulan bila volume lumpur yang dipompakan ke Kali Porong tidak melebihi 50,000 m3 per hari. Bila yang akan dialirkan ke Kali Porong adalah keseluruhan lumpur yang menyembur sejak awal Oktober 2006, maka volume lumpur yang akan pindah ke Kali Porong mencapai 10 juta m3 pada bulan Desember 2006. Volume lumpur yang begitu besar membutuhkan frekuensi dan volume penggelontoran air dari Sungai Brantas yang tinggi, dan kegiatan pengerukan dasar sungai yang terus menerus, agar Kali Porong tidak berubah menjadi waduk lumpur. Sedangkan untuk mencegah pengembaraan koloida lumpur Sidoardjo di perairan Selat Madura,diperlukan upaya pengendapan dan stabilisasi lumpur tersebut di kawasan pantai Sidoardjo.
Para pakar yang melakukan simposium di ITS pada minggu kedua September, menyampaikan informasi bahwa kawasan pantai di Kabupaten Sidoardjo mengalami proses reklamasi pantai secara alamiah dalam beberapa dekade terakhir disebabkan oleh proses sedimentasi dan dinamika perairan Selat Madura. Setiap tahunnya, pantai Sidoardjo bertambah 40 meter. Sehingga upaya membentuk kawasan lahan basah di pantai yang terbuat dari lumpur panas Sidoardjo, merupakan hal yang selaras dengan proses alamiah reklamasi pantai yang sudah berjalan beberapa dekade terakhir.
Dengan mengumpulkan lumpur panas Sidoarjo ke tempat yang kemudian menjadi lahan basah yang akan ditanami oleh mangrove, lumpur tersebut dapat dicegah masuk ke Selat Madura sehingga tidak mengancam kehidupan nelayan tambak di kawasan pantai Sidoardjo dan nelayan penangkap ikan di Selat Madura. Pantai rawa baru yang akan menjadi lahan reklamasi tersebut dikembangkan menjadi hutan bakau yang lebat dan subur, yang bermanfaat bagi pemijahan ikan, daerah penyangga untuk pertambakan udang. Pantai baru dengan hutan bakau diatasnya dapat ditetapkan sebagai kawasan lindung yang menjadi sumber inspirasi dan sarana pendidikan bagi masyarakat terhadap pentingnya pelestarian kawasan pantai.
H. Prisip Dasar Rehabilitasi Lahan yang Terkena Lumpur dari LUSI Mud Volcano
Menurut Maas (2005), rehabilitasi/reklamasi lahan yang tertimbun lumpur laut pada prinsipnya merupakan upaya untuk menurunkan kegaraman tanah, mengubah suasana reduktif menjadi oksidatif dan mengurangi kelebihan natrium yang dipegang oleh koloid tanah.
Kecepatan pemulihan lahan tersebut antara lain tergantung dari topografi lahan, komposisi (tekstur) dan ketebalan lumpur, jenis tanah asli, keberadaan sumber air, bahan organik yang masih potensial untuk dirombak secara aerob/oksidatif, dan peruntukan lahan.
1. Pembilasan, merupakan upaya menghilangkan garam yang bersifat larut. Umumnya dilakukan dengan memanfaatkan air segar/hujan yang berfungsi sebagai pengencer dan pembawa garam terlarutkan tersebut.
Garam yang cepat hilang adalah garam yang berasal dari kation Na, Ca, Mg, dan K, sedangkan anionnya adalah klor, sulfat, dan boron.
Untuk tujuan ini, lumpur sebaiknya dalam keadaan kering/lembab sehingga partikel lumpur tidak ikut terbawa oleh air bilasan. Lumpur yang bahan dasarnya halus (clay) akan menggumpal dan keras bila dikeringkan, agar air dapat meresap ke dalam lumpur kering tersebut, maka bongkahan harus dihancurkan/dihaluskan terlebih dahulu.
Lumpur yang banyak mengandung pasir pada umumnya mempunyai kemampuan melarutkan air lebih cepat. Proses pengeringan cukup sulit untuk dilaksanakan bila keadaan topografinya berupa cekungan dan timbunan lumpur cukup tebal dan halus. Tumpukan bahan lumpur kering tersebut dijadikan guludan/bedengan memanjang yang arahnya tegak lurus dengan arah aliran air.
2. Percepatan penguraian bahan organik dalam lumpur juga dapat sekaligus dikerjakan dengan pengeringan dan penderaian lumpur laut. Prinsip utama adalah pengubahan suasana reduktif menjadi oksidatif (penghawaan), bahan organik yang semula terurai secara reduktif yang menimbulkan gas busuk, dengan adanya sirkulasi udara dalam lumpur akan terurai menjadi garam-garam organik yang larut dalam air.
Penguraian akan lebih efektif bila lumpur tidak lagi jenuh air, dan dengan kombinasi pembilasan sekaligus dapat mempercepat proses penguraian.
3. Setelah garam laut dapat dibilas dan laju penguraian bahan organik telah reda, maka diperlukan tindakan perbaikan status nutrisi di dalam lumpur. Lumpur laut yang telah terbebas dari pengaruh garam laut, kandungan nutrisi yang dipegang oleh koloid lumpur didominasi oleh ion natrium, suatu unsur yang tidak dikehendaki oleh tanaman.
Kejenuhan natrium dalam lumpur laut biasanya mencapai > 15 persen dan kebasaan tanah cukup tinggi (pH > 8). Kedua hal tersebut tidak disukai oleh kebanyakan tanaman. Perbaikan tanah dikerjakan dengan proses penukaran, natrium harus digantikan dengan nutrisi lain.
Bahan penukar yang secara umum tersedia adalah kalsium yang dapat diberikan sebagai kapur atau gipsum. Untuk mencegah kesadahan tanah dapat diberikan serbuk belerang yang dikombinasikan bersama kapur. Kapur yang diberikan sebaiknya bukan dalam bentuk kapur pertanian, lebih cocok kapur bangunan/kapur yang telah dibakar mengingat reaktivitasnya yang lebih cepat.
III. PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Ada dua pendapat tentang penyebab terjadinya LUSI Mud Volcano yakni akibat dari gempa Yogyakarta 26 Mei 2006 dan kesalahan dalam pengeboran gas pada sumur Banjar Panji-1.
2. Dampak LUSI Mud Volcano menyebabkan rusak dan tergenangnya kawasan permukiman, pertanian, dan perindustrian di tiga kecamatan di sekitarnya, serta memengaruhi aktivitas perekonomian di Jawa Timur.
3. Metoda dijalankan untuk menutup semburan LUSI Mud Volcano : snubbing unit (re-entry well, side tracking oil well, relief well, high densitry chained balls (HDCB).
4. Skenario antisipasi kegagalan penutupan semburan LUSI Mud Volcano yaitu meneruskan upaya penangangan lumpur di lokasi semburan dengan membangun waduk tambahan di sebelah tanggul-tanggul yang ada sekarang atau membuang langsung lumpur panas itu ke Kali Porong.
5. Reklamasi lahan yang terkena lumpur dari LUSI Mud Volcano dapat dilakukan dengan cara pembilasan, penghawaan dan perbaikan nutrisi dalam tanah.
B. Saran
Data asli yang milik PT. Lapindo Brantas Inc yang terkait dengan pengeboran di sumur Banjarpanji-1 diharapkan diberikan kepada tim alhi supaya penyebab pastinya terjadi luapan lumpur dapat diketahui dan dapat ditentukan metode yang tepat untuk menutup semburan lumpur sehingga dampak semburan lumpur tidak meluas.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2010. Lumpur Lapindo dan Solusi Penanggulangannya. <http://www.artikelkimia.info/ lumpur-lapindo-dan-solusi-penanggulangannya-47020202092011>. Diakses tanggal 5 Oktober 2011.
Anonim. 2011. Banjir Lumpur Panas Sidoarjo. < http://id.wikipedia.org/wiki/ Banjir_lumpur_panas>. Diakses tanggal 5 Oktober 2011.
BALITBANG PROV. JATIM. 2009. Kajian Penggunaan Lahan untuk Pembangunan Unit Produksi Bahan Bangunan. Balai Penelitian dan Pengembangan Provisi Jawa Timur, Surabaya.
BPLS. 2009. Semburan Lumpur Panas Sidoarjo. <http://bpls.go.id/penanggulangan-lumpur/11-semburan-lumpur-panas-sidoarjo->. Diakses tanggal 4 Desember 2011.
BPLS. 2011. Usaha-usaha Penghentian Semburan. <http://bpls.go.id/penanganan-luapan-ke-kali-porong/305-usaha-usaha-penghentian-semburan>. Diakses tanggal 4 Desember 2011.
Davies, R.J., Swarbrick, R.E., Evans, R.J. and Huuse, M., 2007. Birth of a mud volcano: East Java, 29 May 2006. 9 GSA Today, 17, 4-9.
Maas, A. 2005. Rehabilitasi Tanah yang Tertimbun Lumpur Laut, Kasus Lahan Pertanian di Aceh dan Sumatera Utara Pascatsunami. < http://kompas.com/kompas-cetak/0501/28/Geliat/1524048.htm>. Diakses tanggal 5 Desember 2011.
Mazzini, A., Svensen, H., Akhmanov, G.G., Aloisi, G., Planke, S., Malthe-Sørenssen, A., Istadi, B., 2007. Triggering and dynamic evolution of LUSI mud volcano, Indonesia. Earth Planet. Sci. Lett. 261, 375–388.
Mazzini, A., Nermoen, A., Krotkiewski, M., Podladchikov, Y., Planke, S. and Svensen, H., 2009. Strike‐slip faulting as a trigger mechanism for overpressure release through piercement structures. Implications for the Lusi mud volcano, Indonesia. Marine and Petroleum Geology, 26(9): 1751‐1765.
Putrohari, R.D. 2008. Lusi Lagi : Gempa dan patahan Watukosek ?. <http://rovicky. wordpress.com/2008/06/29/lusi-lagi-gempa-watukosek/>. Diakses tanggal 11 Oktober 2011.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar